Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan pesat, harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi seperti Pertalite tetap akan dijaga agar tidak naik. Kondisi ini terjadi akibat ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang semakin meningkat.
“Kalau harga BBM yang subsidi, yang bensin Pertalite, itu mau (harga minyak dunia) naik berapa pun, tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah,”
demikian disampaikan Bahlil dalam konferensi pers seputar perkembangan terbaru di Timur Tengah dan dampak bagi sektor ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
Untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax, akan ada penyesuaian harga mengikuti tren harga minyak mentah dunia. Bahlil mengungkapkan bahwa harga minyak telah mencapai 78-80 dolar AS per barel, melampaui target makro APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel. Mengingat Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari, kenaikan harga minyak dunia meningkatkan beban APBN karena pembengkakan subsidi energi. Namun, dari sisi lain, Indonesia mendapatkan tambahan pendapatan dari produksi minyaknya.
“Karena Indonesia kan berkontribusi kurang lebih sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang sedang kami hitung,”
tegas Bahlil.
Menurut Bahlil, perhitungan terkait subsidi energi harus dilakukan dengan cermat. Hingga saat ini, meskipun Dewan Energi Nasional telah mengadakan rapat, pemerintah belum berencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.
“Sampai dengan kami rapat tadi, belum ada (kenaikan harga BBM subsidi), jadi aman-aman saja. Hari raya yang baik, puasa yang baik, insya Allah belum ada kenaikan harga BBM,”
tutup Bahlil.
Dalam hal konflik, situasi di Timur Tengah semakin tegang setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026), termasuk di Teheran yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran membalas dengan menyerang Israel dan fasilitas militer AS di kawasan tersebut. Pada hari berikutnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Ayatollah Ali Khamenei telah tewas akibat serangan gabungan tersebut, yang kemudian dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran. Selat Hormuz dilaporkan secara efektif ditutup menyusul serangan ini, meski belum ada deklarasi resmi mengenai blokade formal. Selat ini menangani sekitar seperlima dari perdagangan minyak dunia dan volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar serta Uni Emirat Arab, dengan sekitar 20 juta barel minyak melewati koridor tersebut setiap hari.





